Ku temukan di suatu titik yang tak
berujung pada suatu yang telah usai..
Ku dekati dan berharap dapat
menjamah titik itu..
Titik yang dimana tak akan lekang
oleh setiap nafas kehidupan yang berhembus..
Mengetahui setiap hadir dan jejak
langkah yang berlalu tapi tak pernah singgah..
Berdesir seiring dengan berjalannya
waktu..
Kemana kan ku dapat pelipur lara di
setiap kekosongan yang berlalu dan singgah..
Kekosongan itu bukan berarti
benar-benar berwujud..
Dia itu sebuah rasa yang tak dapat
dikatakan sebagai wujud..
Kutemui suatu wujud yang mengaku
dia sebagai titik..
Titik yang entah sejak kapan ku
dambakan..
Seakan menerka-nerka..
Dia bukan lagi satu..
Dia itu.. sudah jadi mereka..
Mereka yang berbeda namun sama
maupun bersatu menjadi satu kata..
Mereka yang berujar..
Menamakan diri mereka sebagai titik
pula..
Baiklah katakan saja bahwa kalian
titik..
Titik yang tiada arti sungguhnya..
Kalian titik.. tapi bagiku kalian
koma..
Koma yang hanya sebagai
pemberhentian sementara yang tiada berikan suatu kepastian..
Bukan suatu pemberhentian akhir..
tak terkira..
Koma-koma yang lain berurutan datang..
Mengaku pula sebagai titik..
Padahal jelas terpampang mereka
hanyalah koma-koma..
Yang menyelinap disetiap barisan
urutan kalimat yang terbentuk dari unsur kata-kata yang bermula dari rangkaian
huruf- huruf..
Mereka seperti bersuara..
Dan ingin bersuah dengan ku..
‘aku titik mu.. aku titik mu..
datanglah dan masuklah kesetiap alur hidupku.. ayo.. aku titik mu’
Seakan enggan pergi..
Seakan ingin terus mengikuti setiap
kedatangan maupun kepergianku..
Hampa...
Yah... 5 huruf itu..
H
A
M
P
A
Hadirku Antara Menanti atau Pergi
Akhirnya..
Hallah..
Bicara apa aku?
Unsur kata yang tak jelas namun
seakan-akan jelas dan berkesinambungan..
Lamban laun ku sadari..
Tiada titik yang dapat menjadi
suatu pemberhentian kata-kataku bahkan kalimat-kalimat ku..
Tiada saat ini..
Tiada...
Ku sadari..
Semuanya semu...
Titik-titik semu..
Ku ketahui..
Benar adanya..
Saat ini hanyalah koma-koma yang
dapat singgah..
Koma-koma yang ingin membuang
ekornya dan berubah menjadi sebuah titik yang tak semu lagi bagiku..
Tapi tidak..
Aku tak ingin
koma-koma.
Aku hanya ingin
satu koma yang benar-benar mengorientasikan semuanya pada satu titik..
Yah.. aku...
Tiada ingin
menjadikan semuanya sebagai ego..
Tapi ingin
menjadikannya .. yah anggap saja sebagai pelajaran ..
Pelajaran bagi
koma dan kalimatku..
Bahwa satu
kalimat hanya membutuhkan satu koma..
Tiada lebih dari
satu..
Tiada dua maupun
tiga apalagi empat..
Mengharap yah..
hanya bisa mengharap..
Kelak semuanya
akan menjadi sebuah paragraf..
Tidak!
Bukan paragraf..
Tapi sebuah
cerita..
Sebuah cerita
nyata kehidupan..
Yah..
Walau ku tahu..
disetiap cerita pasti banyak sekali koma maupun titik-titik yang menghiasi..
Namun, tidak..
Mereka bukan
titik maupun koma yang kumaksud..
Titik maupun koma
yang ingin berubah jadi titik yang ku maksud adalah..
Seketika ketika
cerita di dalam wacana itu..
Tidak bukan
dongeng..
Ku ingin
realita..
Realita yang dipenuhi
dengan berbagai keajaiban..
Yah...
Di penghujung cerita
nyata itu..
Ku inginkan satu
titik yang dapat berkata dan berwujud pula..
Inginkan dia
berujar :
“dulu aku
hanyalah koma bagimu.. koma yang sangat bersemangat untuk mematahkan ekorku
untuk menjadi titik mu.. dulu kau hanya menganggap aku sebagai penghias setiap
kata-katamu.. bahkan jikalau bisa lebih aku akan menghiasi setiap
kalimat-kalimatmu yang tersusun menjadi sebuah paragraf.. tapi kau berujar
tidak mungkin dan tiada akan pernah aku kan menjadi titik terakhir di cerita
kehidupan mu.. tiada akan pernah.. tapi aku berusaha.. dan aku mengharapkan
keajaiban.. keajaiban yang membuat kau percaya akan semuanya itu.. aku
berjuang.. aku berusaha sangat keras..
Dan akhirnya..
kerjakerasku berbuah manis.. aku ada.. aku ada dipenghujung cerita itu..
semuanya sekarang jadi nyata.. inilah.. inilah akhirnya..
Titik dan kalimat
dipenghujung cerita indah itu akhirnya menjadi satu.. satu dan tak terpisah..
Ku harap
kalimatmu tiada akan berlanjut..
Cukup berhenti di
titik ku saja.. “
Semoga kan ku
temukan titik itu pada dirimu..
Pada dirimu
koma.. koma yang sekarang mendampingiku..
Koma yang
berusaha jadi titik
Cerita ku
menunggumu..
Menjadi akhir..
Menunggu itu...
, ------------- .