Rapuhnya
Kesedihan itu sesuatu yang selalu
bisa saja disembunyikan dari pandangan mata manusia..
Luka itu selalu saja dapat menyelinap
disetiap titik keceriaan dari senyuman yang menutupi selubungan magma panas
yang entah bagaimana bisa diredamkan..
Kelamku adalah disetiap waktu orang
lain tak rasakan apa sebenarnya yang aku rasakan dan aku alami..
Kalutku adalah tersembunyinya jerit
derita yang tak terungkap karena rasa yang sudah terlalu parah terbengkalai..
Aku bukan sesuatu yang dapat terus-menerus
menahan kokohnya baja yang entah datang dari mana menindih kuatnya gejolak
perasaan ini..
Asahku terasa pelan namun pasti
bergerak menjauh seakan-akan putus..
Arahku patah untuk bertahan dan
bergejolak..
Semuanya terasa melelahkan..
Rapuh yang selalu terasa disaat raga
tak kuat menopang ledakan ini..
Aku bukanlah wanita kuat seperti yang
selalu orang-orang umbarkan..
Aku juga bukan wanita tegar yang
mampu setegar lirik-lirik lagu yang selalu mengiringi setiap derap alunan musik
yang memberikan semangat ketegaran hati
yang sesungguhnya hanyalah semu belaka..
Aku hanyalah perempuan biasa, bukan
wanita karena itu terasa terlalu anggun , belum pantas tersandangkan untuk
diriku..
Aku perempuan biasa, tidak kuat,
tidak tegar bahkan selalu rapuh..
Walau terkadang rapuh itu seakan
dienggankan oleh banyak perempuan lainnya yang mengaku perempuan kuat..
Namun aku bangga dikatakan sebagai
sekuntum bunga yang selalu hendak rayu karena kerapuhan hatinya..
Karena ku tahu, disetiap kerapuhan
pasti akan selalu ada ketegaran yang datang walaupun dari arah yang sering kali
berbeda..
Jadi, salahkah jika aku tetap rapuh
sampai kerapuhanku itu terobati dengan hadirnya sosok yang mau menguatkan dan
menopang diriku yang serapuh batang pohon tempat rayap bersarang?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar