Kamis, 15 Agustus 2013

Rapuhnya



Kesedihan itu sesuatu yang selalu bisa saja disembunyikan dari pandangan mata manusia..

Luka itu selalu saja dapat menyelinap disetiap titik keceriaan dari senyuman yang menutupi selubungan magma panas yang entah bagaimana bisa diredamkan..

Kelamku adalah disetiap waktu orang lain tak rasakan apa sebenarnya yang aku rasakan dan aku alami..

Kalutku adalah tersembunyinya jerit derita yang tak terungkap karena rasa yang sudah terlalu parah terbengkalai..

Aku bukan sesuatu yang dapat terus-menerus menahan kokohnya baja yang entah datang dari mana menindih kuatnya gejolak perasaan ini..

Asahku terasa pelan namun pasti bergerak menjauh seakan-akan putus..

Arahku patah untuk bertahan dan bergejolak..

Semuanya terasa melelahkan..

Rapuh yang selalu terasa disaat raga tak kuat menopang ledakan ini..

Aku bukanlah wanita kuat seperti yang selalu orang-orang  umbarkan..

Aku juga bukan wanita tegar yang mampu setegar lirik-lirik lagu yang selalu mengiringi setiap derap alunan musik yang memberikan semangat ketegaran  hati yang sesungguhnya hanyalah semu belaka..

Aku hanyalah perempuan biasa, bukan wanita karena itu terasa terlalu anggun , belum pantas tersandangkan untuk diriku..

Aku perempuan biasa, tidak kuat, tidak tegar bahkan selalu rapuh..

Walau terkadang rapuh itu seakan dienggankan oleh banyak perempuan lainnya yang mengaku perempuan kuat..

Namun aku bangga dikatakan sebagai sekuntum bunga yang selalu hendak rayu karena kerapuhan hatinya..

Karena ku tahu, disetiap kerapuhan pasti akan selalu ada ketegaran yang datang walaupun dari arah yang sering kali berbeda..

Jadi, salahkah jika aku tetap rapuh sampai kerapuhanku itu terobati dengan hadirnya sosok yang mau menguatkan dan menopang diriku yang serapuh batang pohon tempat rayap bersarang?


Tidak ada komentar: